pengertian syukur

pengertian syukur


Simak video fitur baru simPATI
pengertian syukur
A. PENGERTIAN SYUKUR.
Pengertian syukur secara terminology berasal dari kata bahasa Arab, berasal dari kata شكر-يشكر-شكرا‘’ yang berarti berterima kasih kepada atau dari kata lain ‘’ شكر‘’ yang berati pujian atau ucapan terima kasih atau peryataan terima kasih
Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia syukur memiliki dua arti yang pertama, syukur berarti rasa berterima kasih kepada Allah dan yang kedua, syukur berarti untunglah atau merasa lega atau senang dllpengertian syukur
B. MENGAPA KITA HARUS BERSYUKUR DAN APA YANG HARUS KITA SYUKURI
Dalam pendahuluan sudah sedikit dibahas mengenai alasan Mengapa kita harus bersyukur? dan Apa yang kita harus syukuri sebenarnya? Serta maksud Allah sebenarnya mengenai syukur, mengapa kita disiksa nanti jika kita bersyukur dan beriman? Ada beberapa ayat-ayat Al-qur’an yang menerangi tetang hal ini diantaranya sbb :
‘’ Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mesyukuri lagi Maha Mengetahui.’’ (An-Nissa : 147)
ayat ini termasuk dalam surat Madaniyah. Tafsiran ayat ini ialah (Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur) atas Nikmat-Nya - (dan beriman) kepada-Nya??? Pertanyaan ini berarti tidak, jadi maksud Allah tidaklah menyiksamu.—(Dan Allah Maha Mesyukuri) perbuatan-perbuatan orang-orang beriman dengan memberi mereka pahala — (Lagi Maha Mengetahui) akan Makhluk-Nya. Berdasarkan tafsir ini bahwa Allah tidak akan menyiksa hambanya yang bersyukur dan beriman yaitu dengan perbuatan-perbuatan orang-orang beriman dengan pahala sebagai balasannya. jadi mengapa allah menyiksamu karena kita tidak bersyukur dan tidak beriman kepada-Nya
. ‘’ Yang membuat sebaik-baiknya segala sesesuatu yang Dia ciptakan dan Dia telah memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripatih air yang diremehkan. Kemudian Dia Menyempurnakan dan Meniupkan kedalam (tubuh)Nya roh (ciptaan)Nya dan Menjadikan Kamu Pendengaran, Penglihatan, dan hati, (tetapi) Kamu sedikit sekali bersyukur.’’ (As-Sajadah : 9).
Ayat dalam surat ini adalah ayat Makiyah. Al-Biqa’I berpendapat bahwa tujuan utama surat ini adalah peringatan kepada orang-orang kafir menyangkut kitab Al-Qur’an ini menyampaikan berita gembira kepada yang berbakti bahwa mereka akan masuk surga dan terhindar dari neraka. Jadi ayat dalam surat As-Sajadah menjelaskan ayat-ayat yang mengajak dalam kepada ketundukan dan melarang keangkuhan. Bila ditafsirkan ayat ini ialah Allah swt yang mengatur segala urusan Maha Pencipta itu serta Yang Maha Perkasa Lagi Maha Penyayang, Dialah Yang membuat sebaik-baiknya segala sesuatu yang Dia ciptakan sehingga berpotensi berfungsi sebaik mungkin sesuai dengan tujuan penciptaanya dan Dia telah memulai penciptaan manusia yakni Adam As dari tanah, kemudian menjadikan keturunanya dari sedikit saripatih air mani yang diremehkan bila dilihat kadarnya atau menjijikan bila dipandang, atau lemah , tidak berdaya karena sedikitnya. Kemudian lebih hebat lagi dari itu Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam tubuh-Nya ruh (ciptaan)Nya dan setelah kelahiranya di pentas bumi Dia menjadikan bagi kamu wahai manusia pendengaran agar kamu dapat mendengar kebenaran dan penglihatan agar kamu dapat melihat tanda-tanda kebesaran Alla swt dan Hati agar kamu dapat berpikir dan beriman tetapi sedikit sekali kamu bersyukur dan banyak diantara kamu yang kufur yakni kamu yang tidak mefungsikan anugrah-anugrah itu sebagaimana yang Allah kehendaki, tetapi menfungsikannya untuk hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Ayat diatas melukiskan sekelumit dari substansi manusia. Makhluk ini terdiri dari dari tanah dan ruh ilahi. Karena tanah, sehingga manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam sama halnya dengan makhluk -makhluk hidup di buni lainnya. Dengan ruh, ia mengikat dari dimensi kebutuhan tanah itu, walau ia tidak dapat bahkan tidak boleh melepaskanya, karena tanah adalah bagian dari substansi kejadiannya. Dimensi spiritual itulah yang mengantar manusia untuk cenderung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan, dll. Itulah yang mengantar manusia menuju seuatu suatu realitas yang Maha Sempurna, tanpa cacat, tanpa batas,dan tanpa akhir. Oleh karena itu manusia dituntut untuk bersyukur dengan mengfungsikan segala karunia dan nikmat dari penciptaan manusia sesuai dengan kehendak Allah seperti pendengaran yang digunakan untuk mendengar kebenaran dan penglihatan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah serta hati atau akal yang digunakan untuk berpikir memanfaatkan segala karunia itu
C. BALASAN UNTUK ORANG YANG BERSYUKUR.
Adapun balasan bagi orang bersyukur sangat banyak diberikan oleh Allah swt, bahkan Allah sangat mengetahui tanda-tanda orang yang bersyukur. balasan yang diberikan Allah di dunia dan diakhirat. Ada banyak ayat-ayat al-qur’an yang memaparkan tetang apa yang akan diperoleh atau didapatkan bagi orang yang beryukur, diantaranya seperti dalam surat Ali-Imran ayat 144 dan 145 sbb :
‘’ Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah berlalu beberapa orang Rasul. Apakah jika wafat atau terbunuh kamu berbalik kebelakang. Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka tidaklah ia memberi mudarat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur. setiap diri tidaklah akan mati kecuali seizin Allah sebagai ketentuan yang telah ditetapkan waktunya. Barang siapa yang menghendaki pahala dunia, Kami akan memberikan itu kepadanya dan barang siapa yang menghendaki pahala diakhirat, Kami berikan pula kepadanya dan Kami akan memberi balasan bagi orang-orang yang bersyukur.’’(Ali-Imran: 144-145)
‘’ Barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak bersyukur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya Lagi Maha Terpuji.’’ ( Lukman : 12).
Ayat ini merupakan Makiyah, tema utamanya adalah mengajarkan ajakan kepada tauhid dan kepercayaan akan niscaya Kiamat serta pelaksanaan prinsip-prinsip dasar agama. Adapun tafsiran ayat-ayat diatas menunjukan al-qur’an yang penuh hikmah dan Muhsin yang menerapkan hikmah dalam kehidupanya, serta orang-orang kafir yang bersikap sangat jauh dari hikmah kebijaksanaan.
. D. BAGAIMANA CARA KITA BERSYUKUR.
1. Syukur dengan Hati.Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuh-penuhnya nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan nikmat dari Allah. Syukur dengan hati mengantarkan manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa harus berkeberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini juga mengharuskan yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan, dan kasih sayang Allah sehingga terlontar dari lidahnya pujian kepada-Nya.
2. Syukur dengan Lisan. Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Allah sambil memuji-Nya. Di dalam Al-qur’an pujian kepada Allah disampaikan dengan redaksi ‘’Al-hamdulillah’’. Hamd (pujian) disampaikan secara lisan kepada yang dipuji, walaupun ia tidak memberi apa pun baik kepada si pemuji ataupun kepada yang lain. Kata ‘’al’’ pada ‘’alhamdulillah’’ disebut al lil istigraq, yakni mengandung arti ‘’keseluruhan’’, sehingga kata ‘’al-hamdu’’ yang ditujukan kepada Allah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima segala pujian adalah Allah, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya. Jika kita mengembalikan segala puji kepada Allah. Jadi, syukur dengan lisan adalah ‘’alhamdulillah’’ yaitu segala puji bagi Allah
Kata ‘’syakur’’ adalah bentuk hiperbol dari kata syakir yakni orang yang banyak dan mantap syukurnya. Firmannya : qalilum min ibadiya asy-syakur / sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang sempurna kesyukurannya dapat dipahami dalam arti penjelasan tetang sedikit hamba-hamba Allah yang bersyukur dengan mantap. Dua orang diantara mereka yang sedikit itu, adalah Nabi Daud dan Sulaiman as dan dapat juga dipahami dalam arti bahwa karena hamba-hamba Allah yang mantap kesyukurannya, tidak banyak, maka hendaklah kamu berdua (wahai Daud dan Sulaiman) memperbanyak kesyukuran. Yang dimaksud bekerja adalah menggunakan nikmat yang diperoleh itu sesuai dengan tujuan penciptaan atau penganugerahanya. Ini berarti, setiap nikmat yang diperoleh menuntut penerimanya agar merenungkan tujuan dianugerahkanya nikmat tersebut oleh Allahpengertian syukur





Description: pengertian syukur Rating: 4 Reviewer: Imam Murtaqi - ItemReviewed: pengertian syukur

0 comments:

Poskan Komentar

artikel terkait imam murtaqi