Recent Posts

Add Logo ADIRA SEO Festive 2011

Negara dengan pendidikan terbaik

Finlandia. Negara dengan ibukota Helsinki (tempat ditandatanganinya perjanjian damai antara RI dengan GAM) ini memang begitu luar biasa. Peringkat 1 dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA (Programme for International Student Assesment) mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika.

Finlandia

Finlandia

Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental.

Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia?
Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya. Finlandia tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.

Apa gerangan kuncinya?

Ternyata kuncinya terletak pada kualitas guru. Di Finlandia hanya ada guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima. Persaingannya lebih ketat daripada masuk ke fakultas hukum atau kedokteran!

Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata lolos dari ujian, ungkap seorang guru di Finlandia.

Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia.

42-22243084

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.

Kelompok siswa yang lambat mendapat dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses.

Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya.

Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.

manfaat bersekolah

Hampir pada setiap semester saya menanyakan kepada para mahasiswa sebelum memulai perkuliahan Pengantar Ilmu Pendidikan tentang apa substansi dari manfaat sekolah yang pernah dijalani dari TK sampai pada semester awal menjalani status mahasiswa di perguruan tinggi.

Banyak ragam jawaban yang dilontarkan, dari yang paling serius sampai pada hal yang paling konyolsekalipun. Ini di antaranya:
1. Dapat membaca, menulis, dan menghitung.
2. Mempunyai sahabat/pacar.
3. Mendapatkan uang saku.
4. Bisa mengembangkan diri/ kepribadian
5. Mendapatkan pekerjaan.
6. Mengisi waktu luang.
7. Mendapatkan ijazah.
8. Bergabung dalam komuinitas inteletualk,
9. Dst.

Saya selanjutnya menanyakan kepada mahasiswa, seseorang (katakanlah saya, anda, orang tua, famili, tetangga, atau siapapun dengan alasan tidak sempat, tidak punya uang, tidak punya biaya, atau alasan apapun) bila yang bersangkutan tidak bersekolah, apakah tidak bisa atau susah mendapatkan dan meraih segala manfaat yang ada seperti tercantum di atas?

Ok, hal-hal di atas bisa diuraikan satu per satu secara jelas. Membaca, menulia, dan menghitung (calistung)? Banyak orang tidak bersekolah bisa calistung. Bahkan dekade 90-an ada juara/pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan TVRI-LIPI yang hanya sempat mengenyam kelas 4 Sekolah Dasar, mengalahkan puluhan remaja lainnya yang notabene pelajar SMA baik yang favorit maupun tidak terkategori favorit. Tahun 2007 saya sempat mengunjungi kampung suku Badui di bagian selatan Provinsi Banten. Suku ini terkategori ‘mengharamkan’ pendidikan a la sekolah. Tetapi ada seorang warga Badui luar yang dapat berbahasa Indonesia dengan fasih, juga dapat membaca huruf Latin dengan cara otodidak. Juga, anak saya sebelum masuk Taman Kanak-Kanak sudah dapat membaca. Artinya jikalaucalistung diklaim sebagai hal yang merupakan manfaat substansial dari aktifitas bernama sekolah, rasanya banyak kemubaziran.

Mempunyai sahabat atau pacar? Apalagi alasan yang satu ini. Tidak mungkin-lah gara-gara seseorang tidak bersekolah lalu tidak mempunyai sahabat atau pacar. Naif.

Mendapatkan uang saku? Anak saya yang belum bersekolah setiap hari mendapatkan jatah untuk membeli kue atau jajanan (baca: uang saku). So, manfaat dari bersekolah hanya untuk mendapatkan uang saku? Sekali lagi, naif.

Bisa mengembangkan diri/kepribadian? Akan terjaminkah seseorang yang bersekolah dengan sendirinya dapat mengembangkan kepribadian yang utuh? Apakah seseorang yang tidak bersekolah lalu tidak dapat mengembangkan kepribadiannya? Ya enggaklah. Pasti bisa saja. Bahkan mungkin bisa jadi dapat lebih baik dibandingkan anak yang bersekolah. Mochtar Bukhari pernah mengatakan bahwa dalam masyakartat kita ada tiga pola. Yakni masyarakat yang mementingkan ijazah, sekolah, dan belajar.

Ketika jenis pandangan masyarakat terjebak pada formalitas ijazah maka banyak terjadi lembaga pendidikan yang merupakan pabrik ijazah. Ketika masyarakat mementingkan sekolah, maka banyak terjadi kemubaziran nasional. Karena sekolah hanya sekedar mengisi waktu luang. Seseorang yang tidak berminat pada sekolah tertentu dipaksa oleh sistem atau orang tuanya untuk menelan habis apa yang terjadi di sekolah. So, sekali lagi banyak kemubaziran nasional. Nah mestinya, yang dipentingkan adalah belajar. Belajar yang didefinisikan sebagai proses perubahan tingkah laku, baik kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), maupun psikomotorik (ketrampilan).

3 aspek atau ranah ini seperti didengungkan oleh Benyamin S. Bloom pakar pendidikan dari Amerika Serikat (AS), merupakan satu kesatuan yang utuh yang harus dicapai dalam seluruh proses belajar. 3 aspek ini oleh Andrias Harefa dipahami sebagai bagian integral dari seluruh proses pendidikan yang mencakup 3 hal: pengajaran (bagaimana membuat siswa pintar dan berpengetahuan), pembimbingan (bagaiamna membuat siswa mempunyai nilai atau sikap, dan pelatihan (bagaimana membuat siswa mempunyai ketrampilan).

Dan sudah semestinya belajar bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dan dengan siapa saja. Kata belajar bisa dengan siapa saja, meruntuhkan mitos bahwa belajar mesti dengan guru. Pola lama menyatakan guru adalah dan merupakan narasumber tunggal yang memonopoli pengetahuan dan kebenaran.

Nah, semestinya pula masyarakat kita harus dianjurkan untuk tetap belajar sepanjang hayat, seperti diamanatkan oleh Undang-Undand Sistem Pendidikan Nasinal Nomor 20 tahun 2003.

Manfaat lain dari sekolah sebagaimana digambarkan oleh mahasiswa saya adalah mendapatkan pekerjaan? Definisi kerja pada era modern sekarang ini memang memungkinkan pola rektruitmen tenaga kerja yang cukup rumit yang melibatkan banyak hal yang bersifat formalistik. Katakanlah seseorang harus memenuhi syarat tertentu, semisal mempunyai ijazah. Padahal ijazah adalah sebuah pernyataan atau pengakuan bahwa seseorang mempunyai kompetensi dalam bidang tertentu. Tetapi dalam realitasnya ternyata banyak yang memahami secara salah kaprah. Proses memperoleh kompetensi yang memerlukan waktu yang lumayan lama 3 tahun-an, diabaikan begitu saja, dan mementingkan formalitas yang bernama ijazah. Akhirnya banyak terjadi pemilik ijazah nyaris tidak mewakili bidang keahlian/ kompetensi tertentu.

Dan banyak orang tanpa latar belakang belajar di sekolah tidak hanya sekedar mendapatkan pekerjaan, bahkan dapat mempekerjakan para alumni orang sekolahan. Famili saya seorang teknisi yang bertanggung jawab secara teknis dalam bidang maintenance di sebuah apartemen mewah di utara Jakarta. Ia tidak menamatkan SMP-nya, dan bahkan ia membawahi beberapa pegawai/karyawan yang berlatarbelakang sekolah maupun dilpoma, bahkan sarjana teknik. So, manfaat sekolah kalau sekedar mendapatkan pekerjaan terlalu naif. Bahkan juga yang lebih seru banyak pengangguran yang berjudul sarjana ataupun tamatan sekolah.

Manfaat selanjutnya dari proses bersekolah yang diajukan adalah dapat mengisi waktu luang. Seperti dijelaskan di atas, apa mesti orang yang tidak bersekolah tidak dapat mengisi waktu luangnya? Bahkan bisa jadi mereka lebih jago dalam mengisi waktu luang daripada anak sekolahan. Banyak mereka yang bersekolah dapat mengisi waktu luangnya dengan berbagai hal yang positif dan produktif.

Mendapatkan ijazah, diusulkan sebagai manfaat bersekolah yang mungkin bisa jadi tak terbantahkan. Seperui diterangkan di atas, ijazah adalah bukti otentik bahwa seseorang mempunyai ketrampilan tertentu, atau mengikuti jenjang pendidikan tertentu. Anak non-sekolah juga bisa mendapatkan ijazah sebagai pengakuan dengan mendapatkan ijazah paket A, B, C yang bisa untuk melamar pekerjaan juga mendaftar menjadi mahasiswa di universitas baik swasta maupun negeri.
Bergabung dalam sebuah komunitas intelektual? Kata siapa orang tidak bersekolah tidak memungkinkan mempunyai pergaulan luas yang di antaranya dengan dan para pelaku komunitas intelekuatual? Riwayat oarang besar Indoensia banyak membuktikan bahwa tanpa pendidikan yang memadai mereka menjadi hebat. Nama Andrie Wongso, menjadi semacam ikon dalam hal ini di samping banyak tokoh lainnya lainnya. Ia sering disebut sebagai tokoh yang dikagumi yang SD saja tidak tamat.

Bubarkan Sekolah
So? Saya bertanya kepada para mahasiswa. Lalu apa substansi dari manfaat sekolah? Sedangkan manfaat sekolah yang diungkapkan gugur semua dan terbantah dengan berbagai bukti. Bagaimana kalau sekolah kita bubarkan saja? Karena sekolah telah mengebiri para siswa kita. Sekolah menjadi semacam penjara baru. Sekolah telah dan sedang menjadi tempat indoktrinasi berbagai produk politik aliran sejak dulu hingga orde reformasi ini. Bagaimana kalau kita tidak usah kuliah, tetapi saya jamin anda akan mendapatkan nilai yang memuaskan. Karena toh kuliah manfaatnya bisa diraih tanpa harus datang ke kampus?

Ok, saya mengemukakan pertanyaan lain. Bagaimana kondisi Bahasa Inggris anda? Berstatus baik, sedang, atau jelek? Beberapa mahasiswa menyatakan baik, tetapi mayoritas menjawab dengan mengatakan kualitas Bahasa Inggris-nya jelek. Apa upaya anda untuk memperbaikinya kembali? Jawaban yang ada di antaranya dengan otodidak, belajar kembali, practice, dan jawaban terakhir adalah mengambil kursus. Saya menekankan pada jawaban yang terakhir. Mengapa harus kursus? Jawaban yang ada adalah karena kursus dikatakan lebih intensif. Kursus pola belajarnya lebih fokus. Pokoknya kursus dianggap mempunyai banyak kelebihannya bila dibandingkan dengan belajar di sekolah. Ooh berarti memang sekolah itu pembelajarannya tidak intensif, juga tidak fokus. So, gurunya selama ini ngapain aja? Yang salah gurunya, metodenya, sarananya, soalnya, atau bukunya? Makanya memang sekolah harus dibubarkan. Kita ganti dengan kursus Bahasa Inggris, kursus matematika, kursus fisika, dll. Para mahasiswa saya diam, mungkin sambil memikirkan bahan untuk membantah pendapat saya.

Ok. Satu hal lagi, bila seorang pelajar kelas III (atau XII) sebuah SMA atau Madrasah Aliyah yang menginginkan tembus dan mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri favoritnya, apa yang harus ia lakukan? Dari jawaban yang beragam, terselip jawaban bahwa hal tersebut bisa dilakukan dengan mengikuti bimbingan belajar (bimbel). Alasan yang ada juga hampir mirip dan senada dengan kursus. Bimbel lebih intensif, juga lebih fokus dibandingkan dengan atau daripada pola belajar yang ada di sekolah. Pernyataan saya ulangi lagi. Sekolah selama tiga tahun ngapain aja? Sampai-sampai tidak bisa membekali siswanya untuk percaya diri (baca:pede) menghadapi soal soal UMPTN/SPMB Nasional? Mengapa keyakinan dan kebisaan siswa menjawab soal tersebut harus di-back-up dengan bimbel? Kalau begini caranya, memang sekolah bisa diusulkan untuk harus dibubarkan kok. Hehe.

Kelemahan sekolah
Para mahasiswa terdiam. Sekolah bagaimanapun punya kelemahan. Katakanlah, di sekolah berapa jam anak-anak berada di antaranya? Normalnya 7-8 jam. Kalau toh ada pendidikan yang berbasis boarding school yang mungkin mengklaim dirinya menjaga siswa 24 jam penuh, hal ini perlu dipertanyakan kembali. Karena bagaimanapun banyak waktu siswa yang tidak ter-cover oleh pengawasan sekolah atau pembimbing. Selebihnya anak-anak berada di masyarakat atau dalam lingkungan keluarganya. Saya menjelaskan bahwa Hillary Rotham Clinton, mantan ibu negera AS yang sekarang menjai menteri luar negeri di bawah Presiden Barak Hussein Obama, pernah menyatakan satu hal. Peryataan ini sebagaimana saya kutip dari Andrias Harefa. Hillary menyatakan bahwa sekolah memerlukan bantuan ‘orang sekampung’. Karena waktu yang lebih banyak di luar sekolah, makanya lingkungan keluarga, dan masyarakat harus membantunya agar apa yang diajarkan di sekolah dapat terinternalisasi dengan baik.

Coba bayangkan, ketika anak sekolah dicekoki doktrin tentang pendidikan nilai, katakanlah kejujuran, tetapi ia melihat praktik-praktik ketidakjujuran melanda di setiap lini kehidupan baik keluarga maupun masyarakat luas. Pendidikan nilai di sini lalu menjadi absurd. So, masyarakat luas diperlukan sekali bantuannya untuk menyukseskan apa-apa yang diajarakan pihak sekolah.

Rekonstruksi Sekolah
Bagaimanapun saya masih menyekolahkan anak saya, yakni di sebuah SD terpadu di bilangan Parung Kab. Bogor. Mengapa? Sekolah bagaimanapun kurikulumnya jelas. Pola yang akan diajarkan dapat ditelaah sedari awal. Kendatipun definisi kurikulum sendiri banyak tumpang tindih. Salah satu pakar kurikulum UIN Jakarta, M. Zuhdi, Ph. D., jebolan McGill University Monteral Kanada, pernah menyatakan bahwa kurikulum adalah apa yang penting untuk diajarkan kepada para siswa/pembelajar. Nah, siapa yang menganggap apa yang menjadi penting untuk diajarkan? Selanjutnya hal ini bisa dijelaskan bahwa dalam politik negara modern seringkali yang mempunyai otoritas untuk menentukan hal yang terpenting untuk diajarkan di lembaga persekolahan adalah pemerintah, sebagai pelaksana dari apa yang disebut sebagai organisasi masyarakat terbesar yang bernama negara. Banyak masyarakat yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan yang dikelola secara partikelir yakni sekolah swasta yang mempunyai ide-ide brilian dalam pengembangan proses belajarnya di samping sekolah yang berada di bawah kendali pemerintah. Walaupun hal ini juga tidaka atau belum menjadi suatu kemutlakan.

Banyak dari para orang tua tidak cukup pengetahuan dan ketrampilan untuk mengajarkan apa yang mungkin dan harus diwariskan kepada anak-anaknya sebagai bekal untuk mengarungi kehidupannya kelak. Orang tua juga tidak mempunyai cukup waktu untuk melakukan hal itu. Dan inilah yang sering dijelaskan dalam sejarah persekolahan sejak dari jaman Yunani kuno hingga dewasa ini. Dan dalam hal ini dikenal dengan istilah paedagogik, proses pembimbingan anak yang dilakukan oleh orang Yunani kuno yang kemudian diserahkan kepada seseorang yang dipercaya untuk mengisi waktu luang anak-anaknya. Jadi, sekolah pada awalnya adalah proses pengisian waktu luang anak-anak oleh para orang tuanya. Ketika jaman mulai berubah maka tugas ini diserahkan kepada orang lain yang disebut paedagog. Dari sinilah sejarah persekolahan berkembang hingga dewasa ini.

Sekolah juga merupakan wahan atau boleh juga disebut sebagai alat transformasi apa saja yang diselenggarakan secara masif. Transformasi nilai, pengetahuan, juga ketrampilan. Sampai sekarang sekolah masih dipercaya sebagai bagian dari proses pembudayaan, yang oleh John Dewey dikatakan bahwa di antara tujuan dan manfaat sekolah adalah sivilisasi atau proses pembudayaan.

So, sekolah bisa diibaratkan sesuatu hal yang dibenci di satu sisi, juga dirindukan. Tanya saja kepada 50 orang yang anda kenal. Sebagian hidupnya dipengaruhi oleh sekolahnya. Teman, tempat liburan, gaya hidup, dan pola lain yang terjadi dalam kenangan manis dan pahit di sekolahnya. Sekolah, agaimanapun tidak perlu dibubarkan. Sekolah bagaimanapun salah satu alat bentuk mobilitas vertikal bagi kebanyakan orang atau katakanlah orang-orang tertentu. Sekolah harus kita dukung sepenuhnya untuk merekonstruksi dirinya ke arah yang lebih baik.

manfaat bersekolah

Hampir pada setiap semester saya menanyakan kepada para mahasiswa sebelum memulai perkuliahan Pengantar Ilmu Pendidikan tentang apa substansi dari manfaat sekolah yang pernah dijalani dari TK sampai pada semester awal menjalani status mahasiswa di perguruan tinggi.

Banyak ragam jawaban yang dilontarkan, dari yang paling serius sampai pada hal yang paling konyolsekalipun. Ini di antaranya:
1. Dapat membaca, menulis, dan menghitung.
2. Mempunyai sahabat/pacar.
3. Mendapatkan uang saku.
4. Bisa mengembangkan diri/ kepribadian
5. Mendapatkan pekerjaan.
6. Mengisi waktu luang.
7. Mendapatkan ijazah.
8. Bergabung dalam komuinitas inteletualk,
9. Dst.

Saya selanjutnya menanyakan kepada mahasiswa, seseorang (katakanlah saya, anda, orang tua, famili, tetangga, atau siapapun dengan alasan tidak sempat, tidak punya uang, tidak punya biaya, atau alasan apapun) bila yang bersangkutan tidak bersekolah, apakah tidak bisa atau susah mendapatkan dan meraih segala manfaat yang ada seperti tercantum di atas?

Ok, hal-hal di atas bisa diuraikan satu per satu secara jelas. Membaca, menulia, dan menghitung (calistung)? Banyak orang tidak bersekolah bisa calistung. Bahkan dekade 90-an ada juara/pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan TVRI-LIPI yang hanya sempat mengenyam kelas 4 Sekolah Dasar, mengalahkan puluhan remaja lainnya yang notabene pelajar SMA baik yang favorit maupun tidak terkategori favorit. Tahun 2007 saya sempat mengunjungi kampung suku Badui di bagian selatan Provinsi Banten. Suku ini terkategori ‘mengharamkan’ pendidikan a la sekolah. Tetapi ada seorang warga Badui luar yang dapat berbahasa Indonesia dengan fasih, juga dapat membaca huruf Latin dengan cara otodidak. Juga, anak saya sebelum masuk Taman Kanak-Kanak sudah dapat membaca. Artinya jikalaucalistung diklaim sebagai hal yang merupakan manfaat substansial dari aktifitas bernama sekolah, rasanya banyak kemubaziran.

Mempunyai sahabat atau pacar? Apalagi alasan yang satu ini. Tidak mungkin-lah gara-gara seseorang tidak bersekolah lalu tidak mempunyai sahabat atau pacar. Naif.

Mendapatkan uang saku? Anak saya yang belum bersekolah setiap hari mendapatkan jatah untuk membeli kue atau jajanan (baca: uang saku). So, manfaat dari bersekolah hanya untuk mendapatkan uang saku? Sekali lagi, naif.

Bisa mengembangkan diri/kepribadian? Akan terjaminkah seseorang yang bersekolah dengan sendirinya dapat mengembangkan kepribadian yang utuh? Apakah seseorang yang tidak bersekolah lalu tidak dapat mengembangkan kepribadiannya? Ya enggaklah. Pasti bisa saja. Bahkan mungkin bisa jadi dapat lebih baik dibandingkan anak yang bersekolah. Mochtar Bukhari pernah mengatakan bahwa dalam masyakartat kita ada tiga pola. Yakni masyarakat yang mementingkan ijazah, sekolah, dan belajar.

Ketika jenis pandangan masyarakat terjebak pada formalitas ijazah maka banyak terjadi lembaga pendidikan yang merupakan pabrik ijazah. Ketika masyarakat mementingkan sekolah, maka banyak terjadi kemubaziran nasional. Karena sekolah hanya sekedar mengisi waktu luang. Seseorang yang tidak berminat pada sekolah tertentu dipaksa oleh sistem atau orang tuanya untuk menelan habis apa yang terjadi di sekolah. So, sekali lagi banyak kemubaziran nasional. Nah mestinya, yang dipentingkan adalah belajar. Belajar yang didefinisikan sebagai proses perubahan tingkah laku, baik kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), maupun psikomotorik (ketrampilan).

3 aspek atau ranah ini seperti didengungkan oleh Benyamin S. Bloom pakar pendidikan dari Amerika Serikat (AS), merupakan satu kesatuan yang utuh yang harus dicapai dalam seluruh proses belajar. 3 aspek ini oleh Andrias Harefa dipahami sebagai bagian integral dari seluruh proses pendidikan yang mencakup 3 hal: pengajaran (bagaimana membuat siswa pintar dan berpengetahuan), pembimbingan (bagaiamna membuat siswa mempunyai nilai atau sikap, dan pelatihan (bagaimana membuat siswa mempunyai ketrampilan).

Dan sudah semestinya belajar bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dan dengan siapa saja. Kata belajar bisa dengan siapa saja, meruntuhkan mitos bahwa belajar mesti dengan guru. Pola lama menyatakan guru adalah dan merupakan narasumber tunggal yang memonopoli pengetahuan dan kebenaran.

Nah, semestinya pula masyarakat kita harus dianjurkan untuk tetap belajar sepanjang hayat, seperti diamanatkan oleh Undang-Undand Sistem Pendidikan Nasinal Nomor 20 tahun 2003.

Manfaat lain dari sekolah sebagaimana digambarkan oleh mahasiswa saya adalah mendapatkan pekerjaan? Definisi kerja pada era modern sekarang ini memang memungkinkan pola rektruitmen tenaga kerja yang cukup rumit yang melibatkan banyak hal yang bersifat formalistik. Katakanlah seseorang harus memenuhi syarat tertentu, semisal mempunyai ijazah. Padahal ijazah adalah sebuah pernyataan atau pengakuan bahwa seseorang mempunyai kompetensi dalam bidang tertentu. Tetapi dalam realitasnya ternyata banyak yang memahami secara salah kaprah. Proses memperoleh kompetensi yang memerlukan waktu yang lumayan lama 3 tahun-an, diabaikan begitu saja, dan mementingkan formalitas yang bernama ijazah. Akhirnya banyak terjadi pemilik ijazah nyaris tidak mewakili bidang keahlian/ kompetensi tertentu.

Dan banyak orang tanpa latar belakang belajar di sekolah tidak hanya sekedar mendapatkan pekerjaan, bahkan dapat mempekerjakan para alumni orang sekolahan. Famili saya seorang teknisi yang bertanggung jawab secara teknis dalam bidang maintenance di sebuah apartemen mewah di utara Jakarta. Ia tidak menamatkan SMP-nya, dan bahkan ia membawahi beberapa pegawai/karyawan yang berlatarbelakang sekolah maupun dilpoma, bahkan sarjana teknik. So, manfaat sekolah kalau sekedar mendapatkan pekerjaan terlalu naif. Bahkan juga yang lebih seru banyak pengangguran yang berjudul sarjana ataupun tamatan sekolah.

Manfaat selanjutnya dari proses bersekolah yang diajukan adalah dapat mengisi waktu luang. Seperti dijelaskan di atas, apa mesti orang yang tidak bersekolah tidak dapat mengisi waktu luangnya? Bahkan bisa jadi mereka lebih jago dalam mengisi waktu luang daripada anak sekolahan. Banyak mereka yang bersekolah dapat mengisi waktu luangnya dengan berbagai hal yang positif dan produktif.

Mendapatkan ijazah, diusulkan sebagai manfaat bersekolah yang mungkin bisa jadi tak terbantahkan. Seperui diterangkan di atas, ijazah adalah bukti otentik bahwa seseorang mempunyai ketrampilan tertentu, atau mengikuti jenjang pendidikan tertentu. Anak non-sekolah juga bisa mendapatkan ijazah sebagai pengakuan dengan mendapatkan ijazah paket A, B, C yang bisa untuk melamar pekerjaan juga mendaftar menjadi mahasiswa di universitas baik swasta maupun negeri.
Bergabung dalam sebuah komunitas intelektual? Kata siapa orang tidak bersekolah tidak memungkinkan mempunyai pergaulan luas yang di antaranya dengan dan para pelaku komunitas intelekuatual? Riwayat oarang besar Indoensia banyak membuktikan bahwa tanpa pendidikan yang memadai mereka menjadi hebat. Nama Andrie Wongso, menjadi semacam ikon dalam hal ini di samping banyak tokoh lainnya lainnya. Ia sering disebut sebagai tokoh yang dikagumi yang SD saja tidak tamat.

Bubarkan Sekolah
So? Saya bertanya kepada para mahasiswa. Lalu apa substansi dari manfaat sekolah? Sedangkan manfaat sekolah yang diungkapkan gugur semua dan terbantah dengan berbagai bukti. Bagaimana kalau sekolah kita bubarkan saja? Karena sekolah telah mengebiri para siswa kita. Sekolah menjadi semacam penjara baru. Sekolah telah dan sedang menjadi tempat indoktrinasi berbagai produk politik aliran sejak dulu hingga orde reformasi ini. Bagaimana kalau kita tidak usah kuliah, tetapi saya jamin anda akan mendapatkan nilai yang memuaskan. Karena toh kuliah manfaatnya bisa diraih tanpa harus datang ke kampus?

Ok, saya mengemukakan pertanyaan lain. Bagaimana kondisi Bahasa Inggris anda? Berstatus baik, sedang, atau jelek? Beberapa mahasiswa menyatakan baik, tetapi mayoritas menjawab dengan mengatakan kualitas Bahasa Inggris-nya jelek. Apa upaya anda untuk memperbaikinya kembali? Jawaban yang ada di antaranya dengan otodidak, belajar kembali, practice, dan jawaban terakhir adalah mengambil kursus. Saya menekankan pada jawaban yang terakhir. Mengapa harus kursus? Jawaban yang ada adalah karena kursus dikatakan lebih intensif. Kursus pola belajarnya lebih fokus. Pokoknya kursus dianggap mempunyai banyak kelebihannya bila dibandingkan dengan belajar di sekolah. Ooh berarti memang sekolah itu pembelajarannya tidak intensif, juga tidak fokus. So, gurunya selama ini ngapain aja? Yang salah gurunya, metodenya, sarananya, soalnya, atau bukunya? Makanya memang sekolah harus dibubarkan. Kita ganti dengan kursus Bahasa Inggris, kursus matematika, kursus fisika, dll. Para mahasiswa saya diam, mungkin sambil memikirkan bahan untuk membantah pendapat saya.

Ok. Satu hal lagi, bila seorang pelajar kelas III (atau XII) sebuah SMA atau Madrasah Aliyah yang menginginkan tembus dan mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri favoritnya, apa yang harus ia lakukan? Dari jawaban yang beragam, terselip jawaban bahwa hal tersebut bisa dilakukan dengan mengikuti bimbingan belajar (bimbel). Alasan yang ada juga hampir mirip dan senada dengan kursus. Bimbel lebih intensif, juga lebih fokus dibandingkan dengan atau daripada pola belajar yang ada di sekolah. Pernyataan saya ulangi lagi. Sekolah selama tiga tahun ngapain aja? Sampai-sampai tidak bisa membekali siswanya untuk percaya diri (baca:pede) menghadapi soal soal UMPTN/SPMB Nasional? Mengapa keyakinan dan kebisaan siswa menjawab soal tersebut harus di-back-up dengan bimbel? Kalau begini caranya, memang sekolah bisa diusulkan untuk harus dibubarkan kok. Hehe.

Kelemahan sekolah
Para mahasiswa terdiam. Sekolah bagaimanapun punya kelemahan. Katakanlah, di sekolah berapa jam anak-anak berada di antaranya? Normalnya 7-8 jam. Kalau toh ada pendidikan yang berbasis boarding school yang mungkin mengklaim dirinya menjaga siswa 24 jam penuh, hal ini perlu dipertanyakan kembali. Karena bagaimanapun banyak waktu siswa yang tidak ter-cover oleh pengawasan sekolah atau pembimbing. Selebihnya anak-anak berada di masyarakat atau dalam lingkungan keluarganya. Saya menjelaskan bahwa Hillary Rotham Clinton, mantan ibu negera AS yang sekarang menjai menteri luar negeri di bawah Presiden Barak Hussein Obama, pernah menyatakan satu hal. Peryataan ini sebagaimana saya kutip dari Andrias Harefa. Hillary menyatakan bahwa sekolah memerlukan bantuan ‘orang sekampung’. Karena waktu yang lebih banyak di luar sekolah, makanya lingkungan keluarga, dan masyarakat harus membantunya agar apa yang diajarkan di sekolah dapat terinternalisasi dengan baik.

Coba bayangkan, ketika anak sekolah dicekoki doktrin tentang pendidikan nilai, katakanlah kejujuran, tetapi ia melihat praktik-praktik ketidakjujuran melanda di setiap lini kehidupan baik keluarga maupun masyarakat luas. Pendidikan nilai di sini lalu menjadi absurd. So, masyarakat luas diperlukan sekali bantuannya untuk menyukseskan apa-apa yang diajarakan pihak sekolah.

Rekonstruksi Sekolah
Bagaimanapun saya masih menyekolahkan anak saya, yakni di sebuah SD terpadu di bilangan Parung Kab. Bogor. Mengapa? Sekolah bagaimanapun kurikulumnya jelas. Pola yang akan diajarkan dapat ditelaah sedari awal. Kendatipun definisi kurikulum sendiri banyak tumpang tindih. Salah satu pakar kurikulum UIN Jakarta, M. Zuhdi, Ph. D., jebolan McGill University Monteral Kanada, pernah menyatakan bahwa kurikulum adalah apa yang penting untuk diajarkan kepada para siswa/pembelajar. Nah, siapa yang menganggap apa yang menjadi penting untuk diajarkan? Selanjutnya hal ini bisa dijelaskan bahwa dalam politik negara modern seringkali yang mempunyai otoritas untuk menentukan hal yang terpenting untuk diajarkan di lembaga persekolahan adalah pemerintah, sebagai pelaksana dari apa yang disebut sebagai organisasi masyarakat terbesar yang bernama negara. Banyak masyarakat yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan yang dikelola secara partikelir yakni sekolah swasta yang mempunyai ide-ide brilian dalam pengembangan proses belajarnya di samping sekolah yang berada di bawah kendali pemerintah. Walaupun hal ini juga tidaka atau belum menjadi suatu kemutlakan.

Banyak dari para orang tua tidak cukup pengetahuan dan ketrampilan untuk mengajarkan apa yang mungkin dan harus diwariskan kepada anak-anaknya sebagai bekal untuk mengarungi kehidupannya kelak. Orang tua juga tidak mempunyai cukup waktu untuk melakukan hal itu. Dan inilah yang sering dijelaskan dalam sejarah persekolahan sejak dari jaman Yunani kuno hingga dewasa ini. Dan dalam hal ini dikenal dengan istilah paedagogik, proses pembimbingan anak yang dilakukan oleh orang Yunani kuno yang kemudian diserahkan kepada seseorang yang dipercaya untuk mengisi waktu luang anak-anaknya. Jadi, sekolah pada awalnya adalah proses pengisian waktu luang anak-anak oleh para orang tuanya. Ketika jaman mulai berubah maka tugas ini diserahkan kepada orang lain yang disebut paedagog. Dari sinilah sejarah persekolahan berkembang hingga dewasa ini.

Sekolah juga merupakan wahan atau boleh juga disebut sebagai alat transformasi apa saja yang diselenggarakan secara masif. Transformasi nilai, pengetahuan, juga ketrampilan. Sampai sekarang sekolah masih dipercaya sebagai bagian dari proses pembudayaan, yang oleh John Dewey dikatakan bahwa di antara tujuan dan manfaat sekolah adalah sivilisasi atau proses pembudayaan.

So, sekolah bisa diibaratkan sesuatu hal yang dibenci di satu sisi, juga dirindukan. Tanya saja kepada 50 orang yang anda kenal. Sebagian hidupnya dipengaruhi oleh sekolahnya. Teman, tempat liburan, gaya hidup, dan pola lain yang terjadi dalam kenangan manis dan pahit di sekolahnya. Sekolah, agaimanapun tidak perlu dibubarkan. Sekolah bagaimanapun salah satu alat bentuk mobilitas vertikal bagi kebanyakan orang atau katakanlah orang-orang tertentu. Sekolah harus kita dukung sepenuhnya untuk merekonstruksi dirinya ke arah yang lebih baik.

manfaat bersekolah

Hampir pada setiap semester saya menanyakan kepada para mahasiswa sebelum memulai perkuliahan Pengantar Ilmu Pendidikan tentang apa substansi dari manfaat sekolah yang pernah dijalani dari TK sampai pada semester awal menjalani status mahasiswa di perguruan tinggi.

Banyak ragam jawaban yang dilontarkan, dari yang paling serius sampai pada hal yang paling konyolsekalipun. Ini di antaranya:
1. Dapat membaca, menulis, dan menghitung.
2. Mempunyai sahabat/pacar.
3. Mendapatkan uang saku.
4. Bisa mengembangkan diri/ kepribadian
5. Mendapatkan pekerjaan.
6. Mengisi waktu luang.
7. Mendapatkan ijazah.
8. Bergabung dalam komuinitas inteletualk,
9. Dst.

Saya selanjutnya menanyakan kepada mahasiswa, seseorang (katakanlah saya, anda, orang tua, famili, tetangga, atau siapapun dengan alasan tidak sempat, tidak punya uang, tidak punya biaya, atau alasan apapun) bila yang bersangkutan tidak bersekolah, apakah tidak bisa atau susah mendapatkan dan meraih segala manfaat yang ada seperti tercantum di atas?

Ok, hal-hal di atas bisa diuraikan satu per satu secara jelas. Membaca, menulia, dan menghitung (calistung)? Banyak orang tidak bersekolah bisa calistung. Bahkan dekade 90-an ada juara/pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan TVRI-LIPI yang hanya sempat mengenyam kelas 4 Sekolah Dasar, mengalahkan puluhan remaja lainnya yang notabene pelajar SMA baik yang favorit maupun tidak terkategori favorit. Tahun 2007 saya sempat mengunjungi kampung suku Badui di bagian selatan Provinsi Banten. Suku ini terkategori ‘mengharamkan’ pendidikan a la sekolah. Tetapi ada seorang warga Badui luar yang dapat berbahasa Indonesia dengan fasih, juga dapat membaca huruf Latin dengan cara otodidak. Juga, anak saya sebelum masuk Taman Kanak-Kanak sudah dapat membaca. Artinya jikalaucalistung diklaim sebagai hal yang merupakan manfaat substansial dari aktifitas bernama sekolah, rasanya banyak kemubaziran.

Mempunyai sahabat atau pacar? Apalagi alasan yang satu ini. Tidak mungkin-lah gara-gara seseorang tidak bersekolah lalu tidak mempunyai sahabat atau pacar. Naif.

Mendapatkan uang saku? Anak saya yang belum bersekolah setiap hari mendapatkan jatah untuk membeli kue atau jajanan (baca: uang saku). So, manfaat dari bersekolah hanya untuk mendapatkan uang saku? Sekali lagi, naif.

Bisa mengembangkan diri/kepribadian? Akan terjaminkah seseorang yang bersekolah dengan sendirinya dapat mengembangkan kepribadian yang utuh? Apakah seseorang yang tidak bersekolah lalu tidak dapat mengembangkan kepribadiannya? Ya enggaklah. Pasti bisa saja. Bahkan mungkin bisa jadi dapat lebih baik dibandingkan anak yang bersekolah. Mochtar Bukhari pernah mengatakan bahwa dalam masyakartat kita ada tiga pola. Yakni masyarakat yang mementingkan ijazah, sekolah, dan belajar.

Ketika jenis pandangan masyarakat terjebak pada formalitas ijazah maka banyak terjadi lembaga pendidikan yang merupakan pabrik ijazah. Ketika masyarakat mementingkan sekolah, maka banyak terjadi kemubaziran nasional. Karena sekolah hanya sekedar mengisi waktu luang. Seseorang yang tidak berminat pada sekolah tertentu dipaksa oleh sistem atau orang tuanya untuk menelan habis apa yang terjadi di sekolah. So, sekali lagi banyak kemubaziran nasional. Nah mestinya, yang dipentingkan adalah belajar. Belajar yang didefinisikan sebagai proses perubahan tingkah laku, baik kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), maupun psikomotorik (ketrampilan).

3 aspek atau ranah ini seperti didengungkan oleh Benyamin S. Bloom pakar pendidikan dari Amerika Serikat (AS), merupakan satu kesatuan yang utuh yang harus dicapai dalam seluruh proses belajar. 3 aspek ini oleh Andrias Harefa dipahami sebagai bagian integral dari seluruh proses pendidikan yang mencakup 3 hal: pengajaran (bagaimana membuat siswa pintar dan berpengetahuan), pembimbingan (bagaiamna membuat siswa mempunyai nilai atau sikap, dan pelatihan (bagaimana membuat siswa mempunyai ketrampilan).

Dan sudah semestinya belajar bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dan dengan siapa saja. Kata belajar bisa dengan siapa saja, meruntuhkan mitos bahwa belajar mesti dengan guru. Pola lama menyatakan guru adalah dan merupakan narasumber tunggal yang memonopoli pengetahuan dan kebenaran.

Nah, semestinya pula masyarakat kita harus dianjurkan untuk tetap belajar sepanjang hayat, seperti diamanatkan oleh Undang-Undand Sistem Pendidikan Nasinal Nomor 20 tahun 2003.

Manfaat lain dari sekolah sebagaimana digambarkan oleh mahasiswa saya adalah mendapatkan pekerjaan? Definisi kerja pada era modern sekarang ini memang memungkinkan pola rektruitmen tenaga kerja yang cukup rumit yang melibatkan banyak hal yang bersifat formalistik. Katakanlah seseorang harus memenuhi syarat tertentu, semisal mempunyai ijazah. Padahal ijazah adalah sebuah pernyataan atau pengakuan bahwa seseorang mempunyai kompetensi dalam bidang tertentu. Tetapi dalam realitasnya ternyata banyak yang memahami secara salah kaprah. Proses memperoleh kompetensi yang memerlukan waktu yang lumayan lama 3 tahun-an, diabaikan begitu saja, dan mementingkan formalitas yang bernama ijazah. Akhirnya banyak terjadi pemilik ijazah nyaris tidak mewakili bidang keahlian/ kompetensi tertentu.

Dan banyak orang tanpa latar belakang belajar di sekolah tidak hanya sekedar mendapatkan pekerjaan, bahkan dapat mempekerjakan para alumni orang sekolahan. Famili saya seorang teknisi yang bertanggung jawab secara teknis dalam bidang maintenance di sebuah apartemen mewah di utara Jakarta. Ia tidak menamatkan SMP-nya, dan bahkan ia membawahi beberapa pegawai/karyawan yang berlatarbelakang sekolah maupun dilpoma, bahkan sarjana teknik. So, manfaat sekolah kalau sekedar mendapatkan pekerjaan terlalu naif. Bahkan juga yang lebih seru banyak pengangguran yang berjudul sarjana ataupun tamatan sekolah.

Manfaat selanjutnya dari proses bersekolah yang diajukan adalah dapat mengisi waktu luang. Seperti dijelaskan di atas, apa mesti orang yang tidak bersekolah tidak dapat mengisi waktu luangnya? Bahkan bisa jadi mereka lebih jago dalam mengisi waktu luang daripada anak sekolahan. Banyak mereka yang bersekolah dapat mengisi waktu luangnya dengan berbagai hal yang positif dan produktif.

Mendapatkan ijazah, diusulkan sebagai manfaat bersekolah yang mungkin bisa jadi tak terbantahkan. Seperui diterangkan di atas, ijazah adalah bukti otentik bahwa seseorang mempunyai ketrampilan tertentu, atau mengikuti jenjang pendidikan tertentu. Anak non-sekolah juga bisa mendapatkan ijazah sebagai pengakuan dengan mendapatkan ijazah paket A, B, C yang bisa untuk melamar pekerjaan juga mendaftar menjadi mahasiswa di universitas baik swasta maupun negeri.
Bergabung dalam sebuah komunitas intelektual? Kata siapa orang tidak bersekolah tidak memungkinkan mempunyai pergaulan luas yang di antaranya dengan dan para pelaku komunitas intelekuatual? Riwayat oarang besar Indoensia banyak membuktikan bahwa tanpa pendidikan yang memadai mereka menjadi hebat. Nama Andrie Wongso, menjadi semacam ikon dalam hal ini di samping banyak tokoh lainnya lainnya. Ia sering disebut sebagai tokoh yang dikagumi yang SD saja tidak tamat.

Bubarkan Sekolah
So? Saya bertanya kepada para mahasiswa. Lalu apa substansi dari manfaat sekolah? Sedangkan manfaat sekolah yang diungkapkan gugur semua dan terbantah dengan berbagai bukti. Bagaimana kalau sekolah kita bubarkan saja? Karena sekolah telah mengebiri para siswa kita. Sekolah menjadi semacam penjara baru. Sekolah telah dan sedang menjadi tempat indoktrinasi berbagai produk politik aliran sejak dulu hingga orde reformasi ini. Bagaimana kalau kita tidak usah kuliah, tetapi saya jamin anda akan mendapatkan nilai yang memuaskan. Karena toh kuliah manfaatnya bisa diraih tanpa harus datang ke kampus?

Ok, saya mengemukakan pertanyaan lain. Bagaimana kondisi Bahasa Inggris anda? Berstatus baik, sedang, atau jelek? Beberapa mahasiswa menyatakan baik, tetapi mayoritas menjawab dengan mengatakan kualitas Bahasa Inggris-nya jelek. Apa upaya anda untuk memperbaikinya kembali? Jawaban yang ada di antaranya dengan otodidak, belajar kembali, practice, dan jawaban terakhir adalah mengambil kursus. Saya menekankan pada jawaban yang terakhir. Mengapa harus kursus? Jawaban yang ada adalah karena kursus dikatakan lebih intensif. Kursus pola belajarnya lebih fokus. Pokoknya kursus dianggap mempunyai banyak kelebihannya bila dibandingkan dengan belajar di sekolah. Ooh berarti memang sekolah itu pembelajarannya tidak intensif, juga tidak fokus. So, gurunya selama ini ngapain aja? Yang salah gurunya, metodenya, sarananya, soalnya, atau bukunya? Makanya memang sekolah harus dibubarkan. Kita ganti dengan kursus Bahasa Inggris, kursus matematika, kursus fisika, dll. Para mahasiswa saya diam, mungkin sambil memikirkan bahan untuk membantah pendapat saya.

Ok. Satu hal lagi, bila seorang pelajar kelas III (atau XII) sebuah SMA atau Madrasah Aliyah yang menginginkan tembus dan mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri favoritnya, apa yang harus ia lakukan? Dari jawaban yang beragam, terselip jawaban bahwa hal tersebut bisa dilakukan dengan mengikuti bimbingan belajar (bimbel). Alasan yang ada juga hampir mirip dan senada dengan kursus. Bimbel lebih intensif, juga lebih fokus dibandingkan dengan atau daripada pola belajar yang ada di sekolah. Pernyataan saya ulangi lagi. Sekolah selama tiga tahun ngapain aja? Sampai-sampai tidak bisa membekali siswanya untuk percaya diri (baca:pede) menghadapi soal soal UMPTN/SPMB Nasional? Mengapa keyakinan dan kebisaan siswa menjawab soal tersebut harus di-back-up dengan bimbel? Kalau begini caranya, memang sekolah bisa diusulkan untuk harus dibubarkan kok. Hehe.

Kelemahan sekolah
Para mahasiswa terdiam. Sekolah bagaimanapun punya kelemahan. Katakanlah, di sekolah berapa jam anak-anak berada di antaranya? Normalnya 7-8 jam. Kalau toh ada pendidikan yang berbasis boarding school yang mungkin mengklaim dirinya menjaga siswa 24 jam penuh, hal ini perlu dipertanyakan kembali. Karena bagaimanapun banyak waktu siswa yang tidak ter-cover oleh pengawasan sekolah atau pembimbing. Selebihnya anak-anak berada di masyarakat atau dalam lingkungan keluarganya. Saya menjelaskan bahwa Hillary Rotham Clinton, mantan ibu negera AS yang sekarang menjai menteri luar negeri di bawah Presiden Barak Hussein Obama, pernah menyatakan satu hal. Peryataan ini sebagaimana saya kutip dari Andrias Harefa. Hillary menyatakan bahwa sekolah memerlukan bantuan ‘orang sekampung’. Karena waktu yang lebih banyak di luar sekolah, makanya lingkungan keluarga, dan masyarakat harus membantunya agar apa yang diajarkan di sekolah dapat terinternalisasi dengan baik.

Coba bayangkan, ketika anak sekolah dicekoki doktrin tentang pendidikan nilai, katakanlah kejujuran, tetapi ia melihat praktik-praktik ketidakjujuran melanda di setiap lini kehidupan baik keluarga maupun masyarakat luas. Pendidikan nilai di sini lalu menjadi absurd. So, masyarakat luas diperlukan sekali bantuannya untuk menyukseskan apa-apa yang diajarakan pihak sekolah.

Rekonstruksi Sekolah
Bagaimanapun saya masih menyekolahkan anak saya, yakni di sebuah SD terpadu di bilangan Parung Kab. Bogor. Mengapa? Sekolah bagaimanapun kurikulumnya jelas. Pola yang akan diajarkan dapat ditelaah sedari awal. Kendatipun definisi kurikulum sendiri banyak tumpang tindih. Salah satu pakar kurikulum UIN Jakarta, M. Zuhdi, Ph. D., jebolan McGill University Monteral Kanada, pernah menyatakan bahwa kurikulum adalah apa yang penting untuk diajarkan kepada para siswa/pembelajar. Nah, siapa yang menganggap apa yang menjadi penting untuk diajarkan? Selanjutnya hal ini bisa dijelaskan bahwa dalam politik negara modern seringkali yang mempunyai otoritas untuk menentukan hal yang terpenting untuk diajarkan di lembaga persekolahan adalah pemerintah, sebagai pelaksana dari apa yang disebut sebagai organisasi masyarakat terbesar yang bernama negara. Banyak masyarakat yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan yang dikelola secara partikelir yakni sekolah swasta yang mempunyai ide-ide brilian dalam pengembangan proses belajarnya di samping sekolah yang berada di bawah kendali pemerintah. Walaupun hal ini juga tidaka atau belum menjadi suatu kemutlakan.

Banyak dari para orang tua tidak cukup pengetahuan dan ketrampilan untuk mengajarkan apa yang mungkin dan harus diwariskan kepada anak-anaknya sebagai bekal untuk mengarungi kehidupannya kelak. Orang tua juga tidak mempunyai cukup waktu untuk melakukan hal itu. Dan inilah yang sering dijelaskan dalam sejarah persekolahan sejak dari jaman Yunani kuno hingga dewasa ini. Dan dalam hal ini dikenal dengan istilah paedagogik, proses pembimbingan anak yang dilakukan oleh orang Yunani kuno yang kemudian diserahkan kepada seseorang yang dipercaya untuk mengisi waktu luang anak-anaknya. Jadi, sekolah pada awalnya adalah proses pengisian waktu luang anak-anak oleh para orang tuanya. Ketika jaman mulai berubah maka tugas ini diserahkan kepada orang lain yang disebut paedagog. Dari sinilah sejarah persekolahan berkembang hingga dewasa ini.

Sekolah juga merupakan wahan atau boleh juga disebut sebagai alat transformasi apa saja yang diselenggarakan secara masif. Transformasi nilai, pengetahuan, juga ketrampilan. Sampai sekarang sekolah masih dipercaya sebagai bagian dari proses pembudayaan, yang oleh John Dewey dikatakan bahwa di antara tujuan dan manfaat sekolah adalah sivilisasi atau proses pembudayaan.

So, sekolah bisa diibaratkan sesuatu hal yang dibenci di satu sisi, juga dirindukan. Tanya saja kepada 50 orang yang anda kenal. Sebagian hidupnya dipengaruhi oleh sekolahnya. Teman, tempat liburan, gaya hidup, dan pola lain yang terjadi dalam kenangan manis dan pahit di sekolahnya. Sekolah, agaimanapun tidak perlu dibubarkan. Sekolah bagaimanapun salah satu alat bentuk mobilitas vertikal bagi kebanyakan orang atau katakanlah orang-orang tertentu. Sekolah harus kita dukung sepenuhnya untuk merekonstruksi dirinya ke arah yang lebih baik.

5 negara termiskin di dunia

5 Negara Termiskin Di Dunia - Negara Termiskin di dunia terbanyak terjadi di Benua Afrika, kemiskinan rupanya masih menjadi persoalan besar di seluruh dunia, terutama di kawasan Asia Selatan dan Afrika. Itu terungkap dari publikasi majalah bisnis terkemuka AS, Global Finance yang merilis data terbaru daftar negara kaya dan miskin di dunia.

Majalah ini menampilkan 182 negara di seluruh dunia dari yang paling kaya hingga paling miskin. Jika dipegang oleh
negara paling kaya
Qatar, sedangkan posisi
negara termiskin
dipegang oleh Republik Kongo. Kawasan paling miskin di dunia terbanyak terjadi di Benua Afrika, benua yang kerap mengalami bencana kelaparan, serta sering menghadapi konflik berkepanjangan, baik berupa pemberontakan dan perang saudara.

Sebuah studi dari World Institute di United Nations University melaporkan timpangnya kondisi Afrika dibandingkan belahan bumi lainnya. Sebanyak 1 persen orang terkaya dunia menguasai 40 persen aset global, bahkan 10 persen orang terkaya dunia menguasai 85 persen aset dunia.

Sebaliknya, Bank Dunia mencatat pada 2008 sebanyak 1,4 miliar orang hidup dengan 1,25 dolar AS per hari. Itu mencakup hampir 15 persen dari populasi dunia atau hampir 1 miliar orang. Meski begitu, sejak 2001 sebanyak 192 negara anggota PBB mulai mengikuti program Millennium Development Goal dengan tujuan memberantas kemiskinan ekstrem dan kelaparan.

Metode yang digunakan untuk menentukan kekayaan negara adalah membandingkan standar hidup penduduk satu negara secara keseluruh dengan menggunakan produk domestik bruto (PDB) per kapita yang didasarkan pada paritas atau keseimbangan daya beli secara internasional.

Ini mengukur standar hidup antar negara dengan menggunakan indikator biaya hidup relatif, inflasi, serta nilai tukar suatu negara yang dikonversi ke mata uang bersama (dolar internasional atau dolar AS).

Dan berikut ini merupakan Daftar
5 negara termiskin di dunia
:

1. Republik Kongo
Menempati posisi nomor satu paling miskin di dunia, produk domestik bruto (PDB) per kapita penduduk Kongo sebesar 342 dolar AS atau Rp 3 juta per tahun. Tingkat PDB Kongo sebesar 10,7 miliar dolar AS pada 2008 dengan mengandalkan perekonomian pada sektor pertanian, seperti kopi produk kayu, serta sumber alam seperti permata, emas dan minyak.

Terletak di Benua Afrika, Kongo memiliki wilayah 342 ribu kilometer persegi dengan jumlah penduduk hanya 3,7 juta jiwa. Jumlah penduduk hidup dalam kemiskinan sebanyak 74 persen dengan usia harapan hidup 55 tahun.

2. Zimbabwe
Zimbabwe merupakan negara paling miskin kedua di dunia. Tingkat PDB per kapita penduduk Zimbabwe sebesar 365 dolar AS atau Rp 3,28 juta per tahun. Perekonomian negara di Benua Afrika ini mengandalkan pertanian seperti kapas, tembakau dan pertambangan seperti emas dan platinum, serta industri tekstil.

Perekonomian Zimbabwe juga sering kacau balau. Bayangkan, Zimbabwe merupakan satu negara dengan catatan rekor inflasi tertinggi di dunia, bahkan pernah mencapai 11,2 juta persen pada Agustus 2008. Zimbabwe juga dikenal sebagai negara yang pernah mengeluarkan pecahan mata uang terbesar di dunia, yakni 100 miliar dolar Zimbabwe.

3. Burundi
Burundi menempati urutan ketiga sebagai negara paling miskin di dunia yang berlokasi di Afrika. PDB per kapita warga Burundi sebesar 410 dolar AS atau Rp 3,69 juta per tahun. PDB negara ini hanya 1,1 miliar dolar AS pada 2008 dengan cadangan devisa cuma 322 juta dolar AS.

Dengan total luas 27 ribu kilometer persegi, jumlah populasi Burundi mencapai 8,1 juta jiwa. Dari jumlah itu, sebanyak 93,4 persen penduduk hidup dalam kondisi miskin. Usia harapan hidup hanya 49 tahun.

4. Liberia
Liberia menempati posisi keempat sebagai negara termiskin di dunia dengan PDB per kapita sebesar 434 dolar AS atau Rp 3,9 juta per tahun. Total PDB negara ini sebesar 870 juta dolar AS dan mengandalkan sebagian besar pendapatan pada sektor pertanian, seperti karet, kopi dan coklat. Meski luasnya 111 ribu kilometer persegi di Benua Afrika, jumlah penduduk Liberia cuma 4,13 juta jiwa. Sebagian besar atau 94,8 persen juga hidup dalam kemiskinan.

5. Eritria
Eritria merupakan negara paling miskin kelima di dunia. Tingkat PDB per kapita sebesar 676 dolar AS atau Rp 6 juta per tahun. Perekonomian Eritria mengandalkan pada sektor pertanian, seperti tembakau, kapas, sorgum dan ternak, serta sektor industri seperti tekstil, semen dan pangan. Total PDB Eritria sebesar 1,6 miliar dolar AS pada 2008. Luas wilayah Eritria sebesar 117 kilometer persegi dengan jumlah penduduk hanya 4,9 juta jiwa.


Mengapa demikian,, ???????????

Sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik, kenapa Negara miskin itu miskin? Mungkin secara langsung kita akan menjawab ya memang dasar dari dulu miskin, tidak punya sumber daya alam, sudah kutukan, bawaan bayi, kurangnya pendidikan bagi SDM , atau jawaban-jawaban ringkas lainnya. Kekurangan sumber daya alam mungkin bisa menjadi alasan, namun tidak bisa dipungkiri, kebanyakan Negara miskin justru merupakan Negara yang kaya akan barang tambang. Sebut saja Negara Nigeria, kita tahu Negara itu kaya akan minyak. Namun, lihat saja apa yang terjadi disana. Atau sebut saja singapura, apa yang mau diharapkan dari Negara yang sangat kecil itu? Namun, lihat saja bagaimana kayanya mereka.

Sebuah buku yang menarik,berjudul detekti ekonomi (Judul asli Undercover economist) karangan Tim Harford memiliki sebuah bagian yang berjudul kenapa Negara miskin itu miskin. Dalam bab tersebut, Tim Harford berusaha menjelaskan dengan melihat pada Negara di Afrika (Kamerun) dan Asia (Nepal), apa yang sebenarnya menyebabkan kemiskinan sangat sangat betah tinggal di Negara tersebut. Padahal, menurut Harford Negara ini memiliki banyak “uang”.

Dalam artikel ini, saya akan menjelaskan secara ringkas apa yang telah dipaparkan oleh Tim Harford. Sesuai kata orang tua dulu deh, make it simple to know it better (ntah orang tua mana yang mengatakan kata-kata ini).

Pertama sekali, Harford menggambarkan bagaimana keadaan Kamerun ketika ia berkunjung kesana. Digambarkan banyaknya pembangunan yang tidak beres, sarana transportasi yang jelek, dan petugas keamanan yang tidak ramah dan mabuk. Setelah itu, Harford mengupas penyebab dari kebobrokan Negara tersebut.

Banyaknya Bandit di Pemerintahan

Yup, bandit di pemerintahan merupakan penyebab pertama. Menurut Harford bandit pemerintahan sebagaimana yang telah ia lihat di Kamerun terdiri atas

1. Diktator yang berkuasa

Menurut Harford, berdasarkan Teori Olson terdapat dua tipe diktator. Yang satu diktator yang diharapkan berkuasa dalam waktu yang pendek. Bayangkan saja sekelompok perampok, dengan senjata lengkap menyerang sebuah desa. Perampok ini tentu tidak akan menyisakan barang sedikitpun melainkan semuanya dirampok untuk kepentingan pribadinya, kecuali ia mempunyai rencana untuk kembali di tahun berikutnya. Negara yang dipimpin dengan diktator bertipe seperti ini tidak akan pernah stabil. Setiap pimpinan yang berkuasa hanya akan memikirkan diri sendiri tanpa mempertimbangkan sustainability dari negaranya.

Tipe yang kedua adalah diktator dengan masa kekuasaan yang panjang. Diktator ini tidak akan menghancurkan perekonomian dan membuat penduduk kelaparan. Kenapa? Karena merekalah angsa bertelur emas sang diktator. Ia akan selalu membuat ekonomi terus berjalan karena berharap agar ada yang dapat ia jarah dari situ. Diktator ini memang akan terus membuat investasi seperti pembangunan yang akan memakmurkan perekonomian, sehingga akan terus mendapat peluang untuk menjarah.

2. Politisi yang tidak memiliki kompetensi dan sering mempertukarkan kepentingan umum dengan peluang mereka sendiri untuk terpilih kembali

3. Para pegawai negeri dan petugas kepolisian yang sering melakukan pungutan liar.

Dalam tulisannya, Harford menyatakan bahwa para bandit ini telah menjalar kemana-mana dan merekalah yang mengantongi uang-uang rakyat Kamerun sehingga tidak tersalurkan secara benar.

Regulasi birokrasi yang panjang dan berbelit belit

Akibat dari bandit bandit di pemerintahan tadi, terciptalah birokrasi panjang yang memberi peluang bagi tiap bandit untuk mencari uang tambahan alias pungutan liar. Bandit utama alias sang dikator, bukannya tidak mengetahui hal ini. Hanya saja dia semacam melakukan pembiaran agar tercipta “kestabilan” dan “dukungan” dari bandit-bandit kecil berhubung niatannya untuk tetap menjarah dalam tempo yang lama.

Harford menggambarkan contoh biaya yang harus dikeluarkan warga Kamerun. Seorang wirausahawan harus membayar biaya resmi sebesar pendapatan rata-rata warga Kamerun selama dua tahun. Untuk membeli atau menjual rumah atau tanah orang harus membayar hampir seperlima harga jual rumah atau tanah. Supaya lembaga peradilan bersedia membantu penagihan utang macet, diperlukan waktu sekitar dua tahun dengan biaya lebih dari sepertiga nilai tagihan dan dengan melewati lebih dari 58 prosedur pemeriksaan dan pengesahan. Regulasi konyol dan berbelit ini tentu merupakan kabar baik bagi para birokrat. Karena dengan semakin panjang dan lambatnya sebuah prosedur baku, semakin besar peluang dan godaan untuk membayar uang pelicin.

Negara-negara miskin memiliki banyak contoh paling buruk untuk regulasi semacam ini. Dan hal inilah yang menyebabkan Negara itu tetap miskin. Pemerintah Negara kaya biasanya melaksanakan fungsi fungsi dasar dengan cepat dan murah, sedangkan pemerintah Negara miskin sengaja memperpanjang proses dengan harapan dapat memungut uang tunai tambahan.

Pembangunan Yang Tidak Tepat Sasaran

Dalam tulisannya, Harford menggambarkan dua buah contoh dari pembangunan yang tidak tepat sasaran, namun memiliki penyebab yang berbeda.

Yang pertama adalah pembangunan perpustakaan di sebuah sekolah di Kamerun. Perpustakaan terburuk di dunia, begitulah ia menggambarkannya. Perpustakaan tersebut baru berumur empat tahun, namun sudah rusak dan hancur bagaikan bangunan zaman Byzantium berusia seribu tahun. Alih alih menggunakan dana untuk membeli buku, memnyediakan komputer dengan koneksi internet, atau memberikan beasiswa bagi anak yang tidak mampu, sang kepala sekolah malah mendirikan perpustakaan tanpa memikirkan bagaimana perawatannya kelak. Perpustakaan itu dibangun hanya untuk menaikkan gengsi dan memenuhi ambisi sang kepala sekolah. Hasilnya, sebuah perpustakaan sia-sia yang dibangun atas dasar ambisi dan ingin pamer, bukan kebutuhan. Terciptalah proyek yang tidak pernah harus dibangun akhirnya dibangun, dan tidak dibangun dengan baik. Kepentingan pribadi dan ambisi orang yang duduk dalam kekuasaan memang sering menjadi pemborosan di Negara Negara berkembang.

Contoh yang kedua adalah pembangunan rancangan irigasi di Nepal. Sebelum adanya pembangunan irigasi modern, praktek irigasi dilakukan secara tradisional dengan adanya simbiosis mutualisme antara warga hulu sungai dan warga hilir sungai. Namun ketika pembangunan irigasi dan bendungan modern di Nepal dilakukan, yang ada justru kegagalan. Bendungan tidak terpelihara dan sistem irigasi tidak berjalan. Apakah penyebabnya? Apakah teknologi maju dengan rancangan insinyur-insinyur hebat itu gagal? Adanya kesalahan perhitungan? Atau justru kebijakan tradisional dengan melestarikan kebudayaan irigasi nenek moyang justru lebih baik?

Tim Harford berusaha menjawab kegagalan pemberian insentif pembangunan yang sangat sophisticated ini dengan memulai konsep dasar bahwa proyek apa pun paling mungkin sukses jika orang yang mendapatkan manfaat dari proyek itu sama dengan orang yang mengusahakannya. Itulah sebabnya sistem irigasi tradisional lebih berhasil, karena dirancang, dibangun, dan dirawat oleh petani sendiri. Sebaliknya, bendungan-bendungan dan saluran modern dirancang oleh para insinyur yang tidak akan kelaparan, meskipun rancangan mereka gagal, diawasi oleh pelayan masyarakat yang tetap menerima gaji meskipun proyek tidak sukses, dan didanai oleh para pejabat yang lebih dinilai berdasarkan prosedur ketimbang hasil.

Sering terjadi pembangunan dilaksanakan namun tidak direncanakan bagaimana perawatannya kelak. Pegawai negeri Nepal (kyknya di Indonesia jg gini) dipromosilkan berdasarkan senioritas selain berdasarkan kaitan dengan proyek bergengsi. Perawatan seringkali merupakan pekerjaan yang tidak memiliki harapan, meskipun jika terlaksana akan memberi manfaat bagi petani. Apa yang diharapkan seorang pegawai negeri untuk menjalankan tugas remeh yang tidak akan berakhir, jauh dari Kathmandu (ibukota Nepal) tempat istri dan anaknya?

Contoh ini merupakan contoh yang menunjukkan bahwa jika sebuah masyarakat tidak dapat menyediakan jenis insentif pembangunan yang tepat untuk membuat orang produktif, infrastruktur teknis seperti apa pun tidak akan mampu mengentaskan Negara itu dari kemiskinan. Proyek pembangunan sering diawasi oleh orang yang tidak peduli dengan keberhasilannya tapi memiliki kepentingan besar dari segi pendapatan tambahan dan peningkatan karier.

Solusinya??

Dari sebab yang memiskinkan diatas, tentu kita butuh solusi bagaimana cara memperbaiki keadaan tersebut. Sayangnya, Tim Harford hanya menjelaskan beberapa hal yang dapat menjadi solusi untuk memperbaiki keadaan negara yang sedang terjangkiti kanker kemiskinan merajalela ini. sSalah satu reformasi yang sederhana adalah menyederhanakan birokrasi, memudahkan orang mendirikan perusahaan yang memungkinkan wirausahawan mengembangkan dan meminjam uang. Reformasi hukum juga sangat penting, dan ini sangat bergantung pada pemerintahan yang bermoral dan beri’tikad baik.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa dijadikan pelajaran dalam memperkaya negara Indonesia.


Menuntut ilmu menurut islam

Menuntut ilmu dalam islam


Islam merupakan agama yang punya perhatian besar kepada ilmu pengetahuan. Islam sangat menekankan umatnya untuk terus menuntut ilmu.

Dalam surat Ar-Rahman, Allah menjelaskan bahwa diri-Nya adalah pengajar (‘Allamahu al-Bayan) bagi umat Islam. Dalam agama-agama lain selain Islam kita tidak akan menemukan bahwa wahyu pertama yang diturunkan adalah perintah untuk belajar.

Ayat pertama yang diturunkan Allah adalah Surat Al-‘Alaq, di dalam ayat itu Allah memerintahan kita untuk membaca dan belajar. Allah mengajarkan kita dengan qalam - yang sering kita artikan dengan pena.

Akan tetapi sebenarnya kata qalam juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang yang dapat dipergunakan untuk mentransfer ilmu kepada orang lain. Kata Qalam tidak diletakkan dalam pengertian yang sempit. Sehingga pada setiap zaman kata qalam dapat memiliki arti yang lebih banyak. Seperti pada zaman sekarang, komputer dan segala perangkatnya termasuk internet bisa diartikan sebagai penafsiran kataqalam.

Dalam surat Al-‘Alaq, Allah Swt memerintahkan kita agar menerangkan ilmu. Setelah itu kewajiban kedua adalah mentransfer ilmu tersebut kepada generasi berikutnya. Dalam hal pendidikan, ada dua kesimpulan yang dapat kita ambil dari firman Allah Swt tersebut; yaitu Pertama, kita belajar dan mendapatkan ilmu yang sebanyak-banyaknya. Kedua, berkenaan dengan penelitian yang dalam ayat tersebut digunakan kataqalam yang dapat kita artikan sebagai alat untuk mencatat dan meneliti yang nantinya akan menjadi warisan kita kepada generasi berikutnya.

Dalam ajaran Islam, baik dalam ayat Qur’an maupun hadits, bahwa ilmu pengetahuan paling tinggi nilainya melebihi hal-hal lain. Bahkan sifat Allah Swt adalah Dia memiliki ilmu yang Maha Mengetahui. Seorang penyair besar Islam mengungkapkan bahwa kekuatan suatu bangsa berada pada ilmu. Saat ini kekuatan tidak bertumpu pada kekuatan fisik dan harta, tetapi kekuatan dalam hal ilmu pengetahuan. Orang yang tinggi di hadapan Allah Swt adalah mereka yang berilmu.

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Saw menganjurkan kita untuk menuntut ilmu sampai ke liang lahat. Tidak ada Nabi lain yang begitu besar perhatian dan penekanannya pada kewajiban menuntut ilmu sedetail nabi Muhammad Saw. Maka bukan hal yang asing jika waktu itu kita mendengar bahwa Islam memegang peradaban penting dalam ilmu pengetahuan. Semua cabang ilmu pengetahuan waktu itu didominasi oleh Islam yang dibangun oleh para ilmuwan Islam pada zaman itu yang berawal dari kotaMadinah, Spanyol, Cordova dan negara-negara lainnya. Itulah zaman yang kita kenal dengan zaman keemasan Islam, walaupun setelah itu Islam mengalami kemunduran. Di zaman itu, di mana negara-negara di Eropa belum ada yang membangun perguruan tinggi, negara-negara Islam telah banyak membangun pusat-pusat studi pengetahun. Sekarang tugas kita untuk mengembalikan masa kejayaan Islam seperti dulu melalui berbagai lembaga keilmuan yang ada di negara-negara Islam.

Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan bahwa orang yang mulia di sisi Allah hanya karena dua hal; karena imannya dan karena ketinggian ilmunya. Bukan karena jabatan atau hartanya. Karena itu dapat kita ambil kesimpulan bawa ilmu pengetahuan harus disandingkan dengan iman. Tidak bisa dipisahkan antara keduanya. Perpaduan antara ilmu pengetahuan dan iman akan menghasilkan peradaban yang baik yang disebut dengan Al-Madinah al-Fadhilah.

Dalam menuntut ilmu tidak mengenal waktu, dan juga tidak mengenal gender. Pria dan wanita punya kesempatan yang sama untuk menuntut ilmu. Sehingga setiap orang, baik pria maupun wanita bisa mengembangkan potensi yang diberikan oleh Allah Swt kepada kita sehingga potensi itu berkembang dan sampai kepada kesempurnaan yang diharapkan. Karena itulah, agama menganggap bahwa menuntut ilmu itu termasuk bagian dari ibadah. Ibadah tidak terbatas kepada masalah shalat, puasa, haji, dan zakat. Bahkan menuntut ilmu itu dianggap sebagai ibadah yang utama, karena dengan ilmulah kita bisa melaksanakan ibadah-ibadah yang lainnya dengan benar. Imam Ja’far As-Shadiq pernah berkata: “Aku sangat senang dan sangat ingin agar orang-orang yang dekat denganku dan mencintaiku, mereka dapat belajar agama, dan supaya ada di atas kepala mereka cambuk yang siap mencambuknya ketika ia bermalas-malasan untuk menuntut ilmu agama”.

Ajaran agama Islam yang menekankan kewajiban menuntut ilmu tanpa mengenal gender. Karena menuntut ilmu sangat bermanfaat dan setiap ilmu pasti bemanfaat. Kalau kita dapati ilmu yang tidak bermanfaat, hal itu karena faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Sedangkan ilmu itu sendiri pasti sesuatu yang bermanfaat.


kalau sudah tau tentang hukum menuntut ilmu menurut islam...

teman teman semua tentunya harus lebih giat belajarnyaa...


semoga bermanfaat..............