wb

Langkah Dan Cara Penyembuhan Autis

Penyembuhan Autis
Autis ringan jarang terdiagnosis atau bahkan bisa mendapatkan diagnosis yang salah. Hal ini tentu sangat merugikan si anak, karena kemajuannya sangat bergantung pada deteksi dini yang tepat. Dengan deteksi yang tepat dan terpadu, gejala-gejala autis bisa dikurangi semaksimal mungkin. Bahkan bila anak penderita autis mempunyai kecerdasan normal, tidak tertutup kemungkinan ia bisa mencapai jenjang pendidikan tinggi.
Harapan bagi kesembuhan penderita autis yang telah terdeteksi sejak dini tergantung pada penanganan autis. Karena gangguan yang dialami anak autis begitu luas, mencakup gangguan dalam komunikasi verbal dan nonverbal serta terganggu dalam interaksi sosial dan kontrol emosi, maka terapi yang dilakukan juga terapi multidisipliner. Dengan kata lain, terapi bagi penyandang autis harus terpadu, mulai dari terapi obat, terapi bicara, terapi perilaku, pendidikan khusus, dan bila perlu terapi okupasi.
Langkah Terapi untuk Anak Autis
Pada prinsipnya terapi untuk penderita autis dibagi menjadi tiga kegiatan, yaitu bertujuan untuk menggali kemampuan potensial anak,untuk mandiri, dan merancang pelatihan dan pendidikan berkelanjutan sesuai dengan kewajaran pertumbuhan. Sehingga anak dapat mengembangkan diri dan keterampilan yang dibutuhkan untuk dapat berkarya atau bekerja secara mandiri.
• Rehabilitasi Dasar
Langkah berikut ini termasuk upaya mendiagnosis autis lebih dini agar dapat diterapkan tahapan program rehabilitasi dasar (basic rehabilitation). Cermati kelainan pertumbuhan dan perkembangan bayi usia 6-18 bulan, adakah kelainan kelainan pada usia ini? Misalnya, apakah bayi bisa bertatapan mata dengan orang lain? Adakah bagian kaki atau tangan yang mengalami kelainan sulit digerakkan? Bagaimana kemampuannya menelungkup, merangkak, ataupun berdiri ?
Bila diduga bayi usia ini mengidap autis, maka lakukan perawatan dan pelatihan yang terprogram sesuai dengan target pemulihan yang hendak dicapai. Misalnya, bila gerak kaki atau tangan tak wajar, maka kegiatan perawatan dan pelatihan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan anak menggerakkan kaki dan tangan sewajar dan senormal mungkin. Tindakan perawatan dan pemulihan terarah pada otot yang mengalami kekakuan atau spastic, otot yang sangat lemas atau hypotonic, dan otot yang gerakannya tidak terkendali atau athetoid.
Perhatikan juga kemampuan anak bereaksi dan berinteraksi dengan lingkungan, misalnya terhadap suara, sinar, dan kemampuan memerhatikan dan meniru ucapan atau panggilan. Umumnya pada usia 12-14 bulan anak sudah mampu berjalan dan bercakap-cakap, meski masih cadel. Ada kasus anak mengalami keterlambatan berbicara, hal ini bisa dikarenakan terjadi gangguan pada organ pendengaran atau kesulitan menelan. Penanganan dini dan tepat akan mempermudah usaha rehabilitasi yang memulihkan kesehatan anak sehingga terlepas dari kelainan-kelainan fungsi organ tubuh yang bila gagal dapat menimbulkan cacat permanen.
• Rehabilitasi Fungsional
Program ini merupakan lanjutan dari program rehabilitasi dasar. Penekanannya lebih ke perawatan dan pelatihan yang diselaraskan dengan jenis dan tingkat kelainan serta perkembangan kejiwaan anak, terutama dalam masa pembentukan kepribadian anak.
Perawatan diarahkan untuk memulihkan kelemahan yang belum teratasi pada program sebelumnya. Pelatihan dikhususkan untuk memulihkan ketidakwajaran gerakan fisik anak usia 2-4 tahun yang disebabkan oleh kekakuan spastic atau kelemasan hypotonic. Program pelatihan mengarah pada keterampilan bermain, olah raga, seni menari atau menyanyi, dan keterampilan bersosialisasi dalam kelompok. Prinsipnya, tahap lanjutan ini meliputi pelatihan emosi kejiwaan dan peningkatan kecerdasan dasar anak secara terpadu dalam kelompok bermain.
Tantangan yang sangat berat, yaitu bagaimana memulihkan kondisi fisik mental dan kecerdasan anak supaya terbebas dari belenggu kelainan fisik (physical disorder) dan ketertinggalan mental dan intelektual (mental and intellectual retardation) yang sangat menakutkan.
Pada tahapan ini, diharapkan penderita autis dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialami, seperti kemampuan berbicara, berkomunikasi dengan orang-orang terdekat, dan berinteraksi dengan lingkungan, sebagai persiapan belajar di sekolah.
• Antisipasi Masa Ketenangan Palsu
Dalam penelitiannya, Dr. Andreas Rett (1966) memperkirakan adanya masa kestabilan atau ketenangan palsu (plateau atau psedudo stationary stage), dan biasanya terjadi pada anak usia 2-10 tahun. Pada tahapan ini kelainan perilaku anak terlihat berkurang, emosinya terlihat lebih stabil dan terkendali. Namun perlu diwaspadai ancaman terus merosotnya kemampuan syaraf sensorik dan motoriknya. Pengamatan lanjut terhadap masa plateau ini penting agar tidak terjadi tahapan makin sulit bergerak atau disebut late motor deterioration stage.
Pada tahapan ini perlu pengamatan cermat, supaya tidak terkecoh pada pertumbuhan anak yang sepertinya sudah normal. Perlu kewaspadaan orangtua hingga pertumbuhan anak usia 24 bulan. Biasanya di usia ini anak terlihat normal, tetapi setelah itu biasanya ia akan mengalami penurunan kesehatan yang drastis.
Secara awam, penyebab kelainan pertumbuhan anak setelah berusia 24 bulan dapat disebabkan oleh sindroma heller, yaitu kecelakaan tiba-tiba yang terjadi karena benturan kepala akibat terjatuh atau terpukul, demam panas tinggi, salah makan dan minum, atau salah mengonsumsi obat.

0 komentar:

Poskan Komentar